counters
Tampilkan postingan dengan label Muslim Articel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Muslim Articel. Tampilkan semua postingan

Senin, 18 Juni 2012

Game Penghina Islam

Kita sangat prihatin karena masih banyak orang barat yang sangat membenci Islam. Berbagai cara mereka lakukan mulai dari terang-terangan sampai ke hal yang samar. Cara penghinaan terhadap Islam dengan cara terang-terangan seperti pembakaran Al-Quran ataupun dengan cara pembuatan karikatur-karikatur yang bertujuan untuk menghina ajaran Agama Islam. 
Sedangkan cara yang samar bisa dengan melakukan penyisipan bentuk-bentuk hinaan halus melalui tulisan yang disebar melalui berbagai media atau bahkan melalui game-game yang terkenal dewasa ini. 
Ke-universalan Game yang disukai banyak orang termasuk muslim, menjadikannya sarana untuk menghina agama Islam. Dan pintarnya, para gamer, terutama muslim tidak menyadarinya. Karena memang kalau sudah asyik main game lupa segalanya.
Bersumber dari situs forum populer KASKUS, beberapa game yang tanpa disadari (secara samar) menghina Islam yaitu:

1. Devil My Cry 3

Secara garis besar game ini menceritakan seseorang yang bertugas untuk menentang syaitan , dan caranya adalah dengan memasuki sarang setan yang terdiri dari 12 pintu.
Dimana penghinaanya? Mari kita lihat :
Bisa dilihat bentuk pintu tersebut, dalam game tersebut pintu itu adalah jalan menuju alam setan. Pertama  kali dilihat, maka akan tampak biasa, namun jika dilihat dan dianalisis dengan membandingkan dengan pintu Ka'bah. Coba perhatikan kesamaannya. Apa artinya ini? Simpulkan sendiri.
Selanjutnya lihat dengan seksama gambar berikutnya: 

2. Clive Barker Undying

Tema game ini tidak jauh beda dengan gam sebelumnya, yaitu kisah perlawaban terhadap syetan. Dalam salah satu adegannya dapat dilihat dalam gambar dibawah. Letak penhinaannya adalah saat memasuki istana syetan.
 Pada dinding istana tersebut terdapat lafadz Allah.  ini seolah-olah mengatakan bahwa siapa saja yang menyembah Allah adalah sekutu setan.

3. PRINCE OF PERSIA

Seperti namanya, game ini berlatar tempat di Persia. Diceritakan tentang pangeran yang ingin membalas dendam. 
Dalam game ini si pangeran bersenjatakan pedang bertuliskan arab yang Artinya ”“Sebarkanlah ajaranku walau satu ayat pun”. didalam Game ini pangeran membunuh siapa saja yang menghalanginya. ecara tidak langsung game ini mengatakan bahwa ajaran Rasullulah yang disebarkan adalah ajaran membunuh. dan mengatakan bahwa umat islam adalah kaum barbar.

4. GUITAR HERO 3

Sebuah game bertema musik. Bentuk penghinaanya dapat diperhatikan pada gambar. Lafadz ALLAH dengan jelas terpampang dilantai panggung dan di injak-injak.

5. RESIDENT EVIL 4

Dalam Game ini diceritakan seorang yang bertugas mengemban misi menyelamatkan dunia dari ancaman zombie (mayat hidup) dan zombie disini adalah dikategorikan jahat dan wajib di bunuh. Unsur penghinaanya sebenarnya sudah ada sejak pertama kali main, tapi yang sangat Jelas adakah saat Leon memasuki Sarang Zombie . Pintu tersebut terdapat simbol Iluminati dan pintu tersebut dibuat persis dengan pintu Pintu Omar Bin Khattab, Masjid Nabawi.
Gambar asli Lambang Iluminati:
Pintu Umar Bin Khatab Masjid nabawi
Gambar kaligrafi dari pintu umar bin khattab dibuat sama persis tanpa diubah Tulisan Kaligrafi yang Berlafadz Nabi Muhammad. dan di tindih dengan lambang iluminati .Nauzubillah…kita dapat mengambil kesimpulan bahwa sarang zombi , berpintu dengan lafadz Nabi Muhammad SAW.

APAKABAR IMAN MU???

"Ijlis bina nu'minu sa'ah." Lalu menitiklah banyak air mata.
Rasulullah salallahu ‘alaihi wa salam, senantiasa menyapa para sahabat dengan pertanyaan "Apakah kabar iman kalian saat ini?" Setiap kali bertemu, setiap kali bertatap muka, tidak ada yang paling beliau risaukan melainkan iman di dada para sahabat dan umatnya.
“Ijlis bina nu’minu sa’ah, mari duduk sejenak untuk membina semua iman kita”. Demikian ujar Muadz bin Jabal kepada para sahabat. Menginsafi banyak waktu mereka yang tersita oleh aktivitas diluar pembinaan iman, para sahabat senantiasa saling menjaga, saling mengingatkan. Seketika mereka saling menitikkan air mata. Hal itu pula yang dilakukan oleh Abdullah bin Rawahah kepada Abu Darda. "Akhi, ta’nul nu’minu sa’ah, marilah saudaraku kita beriman sejenak". Ujarnya.
Rasulullah salallahu wa salam menempatkan iman pada posisi yang sangat tinggi dan menjadi tolak ukur utama diatas kondisi keduniaan. Rasulullah SAW begitu khawatir kalau saja dunia membuat lalai para sahabat dan perlahan mengendurkan keimanan mereka. Iman menjadi nilai paling sentral yang senantiasa dijaga Rasulullah SAW dan para sahabat. Iman ini pula yang menjadi perhatian khusus Rasul, kepada seluruh umatnya hingga akhir zaman.
Dari Ibnu Abbas Radhiallahu 'anhu, diriwayatkan suatu ketika selepas shalat shubuh, seperti biasa Rasulullah SAW duduk menghadap para sahabat. Kemudian beliau bertanya, “Wahai manusia siapakah makhluk Tuhan yang imannya paling menakjubkan?”. “Malikat, ya Rasul,” jawab sahabat. “Bagaimana malaikat tidak beriman, sedangkan mereka pelaksana perintah Tuhan?” Tukas Rasulullah. “Kalau begitu, para nabi ya Rasulullah” para sahabat kembali menjawab “Bagaimana nabi tidak beriman, sedangkan wahyu dari langit turun kepada mereka?” kembali ujar Rasul. “Kalau begitu para sahabat-sahabatmu, ya Rasul”. “Bagaimana sahabat-sahabatku tidak beriman, sedang mereka menyaksikan apa yang mereka saksikan. Mereka bertemu langsung denganku, melihatku, mendengar kata-kataku, dan juga menyaksikan dengan mata kepala sendiri tanda-tanda kerasulanku.” Ujar Rasulullah.
Lalu Nabi SAW terdiam sejenak, kemudian dengan lembut beliau bersabda, “Yang paling menakjubkan imannya,” ujar rasul “adalah kaum yang datang sesudah kalian semua. Mereka beriman kepadaku, tanpa pernah melihatku. Mereka membenarkanku tanpa pernah menyaksikanku. Mereka menemukan tulisan dan beriman kepadaku. Mereka mengamalkan apa-apa yang ada dalam tulisan itu. Mereka mengamalkan apa-apa yang ada dalam tulisan itu. Mereka membela aku seperti kalian membelaku. Alangkah inginnya aku berjumpa dengan saudara-saudaraku itu.”
Kemudian, Nabi SAW meneruskan dengan membaca surat Al-Baqarah ayat 3, “Mereka yang beriman kepada yang gaib, mendirikan shalat, dan menginfakan sebagian dari apa yang Kami berikan kepada mereka.”
Lalu Nabi SAW bersabda, “Berbahagialah orang yang pernah melihatku dan beriman kepadaku” Nabi SAW mengucapkan itu satu kali. “Berbahagialah orang yang beriman kepadaku padahal tidak pernah melihatku.” Nabi SAW mengucapkan kalimat kedua itu hingga tujuh kali.
Dari hadist di atas tentu kita faham bahwa pernyataan Rasulullah SAW tidak berarti mengerdilkan keimanan para sahabat, namun jauh dari itu, dari sana kita menatap bahwa ada sebuah harapan besar Nabi SAW kepada umatnya yang hadir sesudahnya. Beliau memberikan perhatian dan apresiasi khusus bagi kita agar senantiasa menjaga keimanan.
Ya bagaimanapun, kembali mengingat apa yang senantiasa dilakukan Rasulullah SAW dan para sahabat dalam menjaga keimanan, sepatutnya membuat kita tertunduk malu. Para sahabat dengan amal-amal keimanan yang luar biasa, masih saja selalu merasa kurang, masih selalu memuhasabah diri, dan masih saling menitikan air mata ketika disadarkan tentang keimanan, lalu bagaimana dengan kita dengan segala hebatnya kelalaian kita?
Allahumma ij’alil hayata ziyadatan lana fi kulli khaiir, waj’alil mauta rohatan lana minkulli syarr. Jadikan ya Allah, kehidupan kami sebagai sarana menambah segala kebaikan. Dan jadikan kematian kami sebagai istirahat dari segala keburukan.
Ya, marilah duduk sejenak untuk memperbaiki keimanan kita.

Sabtu, 25 Februari 2012

Rumah Mewah? Pentingkah?

Tersebutlah seorang penganut tasawuf bernama Nidzam al-Mahmudi. Ia tinggal di sebuah kampung terpencil, dalam sebuah gubuk kecil. Istri dan anak-anaknya hidup dengan amat sederhana. Akan tetapi, semua anaknya berpikiran  cerdas dan berpendidikan.

Selain penduduk kampung itu, tidak ada yang tahu bahwa ia mempunyai kebun subur berhektar-hektar dan perniagaan yang kian berkembang di beberapa kota besar. Dengan kekayaan yang diputar secara mahir itu ia dapat menghidupi ratusan keluarga yg bergantung padanya. Tingkat kemakmuran para kuli dan pegawainya bahkan jauh lebih tinggi ketimbang sang majikan. Namun, Nidzam al-Mahmudi merasa amat bahagia dan damai menikmati perjalanan usianya.
Salah seorang anaknya pernah bertanya, `Mengapa Ayah tidak membangun rumah yang besar dan indah? Bukankah Ayah mampu?”

“Ada beberapa sebab mengapa Ayah lebih suka menempati sebuah gubuk kecil,” jawab sang sufi yang tidak terkenal itu.
“Pertama, karena betapa pun besarnya rumah kita, yang kita butuhkan ternyata hanya tempat untuk duduk dan berbaring. Rumah besar sering menjadi penjara bagi penghuninya. Sehari-harian ia Cuma mengurung diri sambil menikmati keindahan istananya. Ia terlepas dari masyarakatnya. Dan ia terlepas dari alam bebas yang indah ini. Akibatnya ia akan kurang bersyukur kepada Allah.”

Anaknya yang sudah cukup dewasa itu membenarkan ucapan ayahnya dalam hati.

Apalagi ketika sang Ayah melanjutkan argumentasinya, “Kedua, dengan menempati sebuah gubuk kecil, kalian akan menjadi cepat dewasa. Kalian ingin segera memisahkan diri dari orang tua supaya dapat menghuni rumah yang lebih selesa. Ketiga, kami dulu cuma berdua, Ayah dan Ibu. Kelak akan menjadi berdua lagi setelah anak-anak semuanya berumah tangga. Apalagi Ayah dan Ibu menempati rumah yang besar, bukankah kelengangan suasana akan lebih terasa dan menyiksa?”

Si anak tercenung. Alangkah bijaknya sikap sang ayah yang tampak lugu dan polos itu. Ia seorang hartawan yang kekayaannya melimpah. Akan tetapi, keringatnya setiap hari selalu bercucuran. Ia ikut mencangkul dan menuai hasil tanaman. Ia betul-betul menikmati kekayaannya dengan cara yang paling mendasar. Ia tidak melayang-layang dalam buaian harta benda sehingga sebenarnya bukan merasakan kekayaan, melainkan kepayahan semata-mata. Sebab banyak hartawan lain yang hanya bisa menghitung-hitung kekayaannya dalam bentuk angka-angka. Mereka hanya menikmati lembaran-lembaran kertas yang disangkanya kekayaan yang tiada tara. Padahal hakikatnya ia tidak menikmati apa-apa kecuali angan-angan kosongnya sendiri.

Kemudian anak itu lebih terkesima tatkala ayahnya meneruskan, “Anakku, jika aku membangun sebuah istana anggun, biayanya terlalu besar. Dan biaya sebesar itu kalau kubangunkan gubuk-gubuk kecil yang memadai untuk tempat tinggal, berapa banyak tunawisma/gelandangan bisa terangkat martabatnya menjadi warga terhormat? Ingatlah anakku, dunia ini disediakan Tuhan untuk segenap mahkluknya. Dan dunia ini cukup untuk memenuhi kebutuhan semua penghuninya. Akan tetapi, dunia ini akan menjadi sempit dan terlalu sedikit, bahkan tidak cukup, untuk memuaskan hanya keserakahan seorang manusia saja”

***

Diambil dari percikan-iman, ervakurniawan.wordpress.com (dengan judul asli "sang sufi")